Corporate Social Responsibility Program By

PT . TOTAL QUALITY INDONESIA

arca mahanandhi

Font Size

SCREEN

Profile

Layout

Menu Style

Cpanel

Profile Arca Maha Nandi

Mengenal Sepintas Kilas Maha Nandi dan Artefak Emas

Jawa Kuno

(oleh Prof. Dr. Timbul Haryono MA. MSc.)

Nandi ada adalah dewa yang pegang peran penting di dalam  pantheon Hindu Perwujudannya bisa sebagai zoomorfis (binatang) yang disebut vrsabha putih

Nandi adalah wahana atau kendaraan Dewa Siwa, bersama dengan Mahakala bertugas  menjaga  pintu gerbang Surga Dewa Siwa dan Dewi Parwati. Di dalam kitab purana Nandi atau Nandikeswara adalah sapi putih yang berbadan manusia dengan Ciri-ciri bertangan 4 (empat), dua tangan belakang memegang parasu (kapak) dan Murga, Mrga (kijang); sementara dua tangan yang lain dalam sikap añjalihastamudra atau   añjalimudra, yaitu sikap menyembah. Ia adalah pengikut setia Dewa Siwa.

Nandi lahir dari tubuh bagian sisi kanan Dewa Wisnu  dan menyerupai Dewa Siwa. Racun yang diminum Dewa Siwa keluar dari mulutnya dan jatuh ke tanah dan diminum oleh Nandi, Nandi adalah bentuk  theriomorphic Siwa. Oleh karena itu Nandi mendapat perhiasan/hiasan  seperti arca independen (mandiri). Dalam bentuk antropomorfik  adalah Nandisa, nama teman Siwa (Sivaduta)

Ia sendiri melambangkan kesuburan. Sebelum aliran Siwa muncul di dalam agama Hindu telah ada penggambaran lembu jantan. Pada masa peradaban Dravida (3500-1500 SM) yang masyarakat agraris, mereka telah menggambarkan lembu

Di dalam kebudayaan Mesopotamia, Dewa Sin merupakan dewa yang bersifat lunar (rembulan) yang kadang-kadang diwujudkan dalam bentuk seekor lembu

Dalam peradaban kuno di Asia Barat lembu adalah simbol ‘lunar’ (simbol yang berkaitan dengan bulan) karena secara morfologis bentuk  tanduknya menyerupai dengan bentuk bulan sabit

Di dalam  kebudayaan ‘paleo-oriental’, lembu menjadi perlambangan kekuatan dan  tanduk lembu bermakna memiliki kekuatan yang lebih

Menurut Frobenicus, lembu hitam ada kaitannya dengan lambang dunia kematian. Maka ketika ada seorang raja meninggal, ia akan ditempatkan di dalam peti mati yang berbentuk seperti lembu (seperti dalam upacara ngaben di Bali).

Di lukisan Mesir kuno, ada gambar lembu hitam yang membawa mayat di atas punggungnya. Lembu merupakan lambang penghubung atau titik atau wilayah  peralihan antara unsur api dan unsur air yang melambangkan penghubung antara surga dan dunia

Lembu juga lambang maskulin, lambang ayah. Dalam perkembangannnya lembu dianggap sebagai simbol Dewi Ibu dan dilarang untuk dibunuh

Pada jaman Wedda sejak 1500 SM sampai 500 SM binatang lembu sudah mulai digunakan di dalam lambang kedewaan. Dewi Pratiwi sebagai penguasa bumi dilambangkan dengan lembu betina. Dewa Dyaus sebagai penguasa langit  dilambangkan sebagai lembu jantan. Dewa Rudra dalam salah satu aspeknya ialah sebagai Dewa ternak dan kekuasaan. Di dalam Rgweda, ia dianggap sebagai pelindung binatang dan ia diwujudkan sebagai seekor lembu

Nandi berarti cerminan sifat energi Siwa. Akhirnya lembu pun mendapat penghormatan sendiri dan diarcakan tersendiri di dalam candi seperti di Jainath (Uttarpradesh), candi Vaisnata, Khajauraho (India selatan).

Nandi dikenal sebagai penjaga rumah Siwa dengan nama Viraka Di dalam kitab Braddharadadharma purana, Nandi dikenal sebagai pembantu Siwa, Tantu Panggelaran, menyebutkan  Nandi dalam perwujudan sebagai lembu di dalam ceritera pemindahan Gunung Mahameru ke Pulau Jawa untuk menambah beban agar Pulau Jawa tidak goyang, Setelah para dewa berhasil memindahkan  Mahameru, Batara Guru memberi hadiah kepada  Dewa Brahma seekor Hamsa putih, Dewa Wisnu, memperoleh Garuda, dan Iswara memperoleh Vrsaba putih.

Jumlah arca Nandi di Indonesia cukup banyak khususnya arca batu, akan tetapi umlah arca Nandi yang dibuat dari bahan  logam amat jarang, bahkan barangkali arca logam Maha Nandi ini satu-satunya, Mungkin sekali arca logam Maha Nandi ini termasuk dalam sistem pemujaan ‘kula dewata’ yaitu pemujaan di dalam komunitas kecil

Unsur logam secara kualitatif adalah tembaga (Cu),  timah putih (Sn), seng (Zn)  dalam persentase yang tinggi. Selain unsur-unsur tersebut juga terdapat unsur emas (Au), nikel (Ni),  timbal (Pb), ini penemuan yg masterpiece yg luar biasa.



DESKRIPSI TEMUAN ARCA MAHA NANDI :

Arca perunggu emas Maha Nandi, ditemukan di jawa tengah dalam kondisi ekor tegak dan kepala menengadah ke atas dengan Relik suci didalamnya sebagai tanda penyatuan dewa Siwa dalam diri arca Maha Nandi. Maha Nandi duduk di Padmasanaganda, dengan hiasan sulur-suluran geometris di Punggung dan Mahkota.

Prof. Dr. Timbul Haryono M.Sc memberikan beberapa catatan : bahwa ada 2 macam tradisi pembuatan arca logam di India yaitu "shasira" dan "Ghana" pada arca logam dibuat dengan teknik rongga untuk penyimpanan relik suci, Arca Maha Nandi dibuat dengan teknik yg sama, dalam bahasa latin disebut "acire perdue" atau "lost wax methode" dipastikan Maha nandi adalah temuan di wilayah jawa tengah, periodisasi gaya jawa tengah abad VIII ini adalah Temuan Arca logam wahana dewa siwa yang sangat langka dan memiliki nilai yang sangat penting didalam khasanah ilmu arkeologi, sebab ditemukan dalam kondisi utuh, memiliki relik, berinskripsi dan lengkap dengan lak penutup relik.

Penelitian dilakukan menggunakan test DNA biologi purba dan Penemuan relik suci ber inskripsi kuno berhasil dilakukan dengan menggunakan teknologi X-Ray Digital 130 KV dengan Automatic Exposure  non destructive technique. Dilakukan di RSUD dr Soetomo pada tanggal 16 Februari 2012.  Dari hasil itu diketahui ada semacam logam emas di dalam perut arca ini yang tiada lain merupakan relik. Relik dalam referensi Domela Niewenhuis (1983) disebutkan sebagai benda suci yang dimasukkan ke dalam benda pemujaan untuk ‘mengundang’ kehadiran dewa.

Junus Satrio Atmodjo Direktur Peninggalan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata pada 29 Maret 2011 dalam surat elektroniknya ke Johan Yan menuliskan arca ini sebagai masterpiece Indonesia. Ini karena kelangkaannya yang tidak tergantikan. “Ini adalah satu-satunya arca Nandi dengan ekor tegak dan kepala menengadah ke atas dengan relic suci di dalamnya sebagai tanda penyatuan dewa Syiwa dalam diri Nandi.

Penelitian kandungan logam Arca Maha Nandi dilakukan 2 kali di Badan Tenaga Nuklir Nasional yogjakarta yang dilakukan dengan dua  pendekatan yaitu kualitatif pada tanggal 21 Februari 2012  dan kuantitatif  25 Februari 2012. Penelitian ini dipimpin langsung oleh Prof. Dr. Timbul Haryono M,Sc.,Dr. Mulyono, Dr. Iswantoro dan dibawah pengawasan langsung Prof. Drs. Samin Prihatin. Penelitian ini menemukan ada delapan unsur logam yang terdapat di Arca Maha Nandi. Kadungan logam wilayah padmasana: Fe 132 01.81%, Ni 2113 28,61%, Cu 3158 42,76%, Zn 499 06,75%, Pb 77 01.04%, Ag 55 00.74%, Sn 940 12,73%, Sb 94 01,27%, Au 240 03,25%, dan kandungan logam wilayah ekor terdiri dari Fe 99 02,42%, Ni 97 02,37%, Cu 1952 47,76%, Zn 1148 28,09%, Pb 46 01,12%, Ag 16 00,36%, Sn 535 13,09%, Sb 54 01,32%, Au 99 02,42.

Hasil penelitian ini menginspirasi seorang guru besar bidang arkeologi Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta yang juga secara langsung memimpin penelitian terhadap Arca Maha Nandi Prof. Dr. Timbul Haryono M.Sc.   untuk menulis buku yang berjudul "Maha Nandi dalam Persepektif Arkeometalurgi".  Ini menunjukan bahwa Arca Maha Nandi ini mempunyai keistimewaan dimata para ilmuan bidang arkeologi.

Lebih lanjut pemerintah lewat Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata sudah mendaftarkan arca ini sebagai benda cagar budaya era Hindu-Budha utuh dengan nomor 3578/B/33 pada tanggal 20 April 2011. Pendaftaran arca ini sebagai benda cagar budaya dilakukan setelah melakukan serangkaian penelitian mendalam oleh 2 arkeolog senior Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Timur