Corporate Social Responsibility Program By

PT . TOTAL QUALITY INDONESIA

arca mahanandhi

Font Size

SCREEN

Profile

Layout

Menu Style

Cpanel

Press Confrence Arca Maha Nandi

Graha TOTAL QUALITY, Jl. Jemursari 85 B Kamis 17 Nov 2011

Setelah Pameran Tunggal Maha Nandi dalam kongres IAAI tanggal 1-3 November 2011, dibuka oleh Menko Kesra RI HR. Agung Laksono. Keberadaan 'Maha Nandi' sebagai arca peninggalan era Hindu-Budha abad VIII menarik perhatian para ahli radiografer utk menjadikannya obyek ilmiah pada Kongres Nasional XII Perhimpunan Radiografer Indonesia (PARI), tgl 18-20 November 2011 di Bandung.


Kongres ini dihadiri 800 Radiographer senior seluruh Indonesia akan lakukan "identifikasi relic Maha Nandi dng X-Ray berbasis teknologi Digital" sebagai sebuah kasus aplikasi Teknologi X-Radiograph bagi kepentingan publik.


Maha Nandi sendiri berbentuk arca logam Lembu wahana Dewa Siwa. Dari kajian metalurgi, disebutkan ada kandungan beberapa jenis logam diantaranya emas. Di dalam tubuh Maha Nandi setelah dilakukan teknologi digital scan x-ray ternyata ditemukan relic berbentuk logam mulia emas berinskripsi dengan nomer atom lebih tinggi dari perunggu.

Identifikasi Maha Nandi menggunakan X ray untuk pertama kali dilakukan pada tanggal 16 Februari 2011 oleh Soegardo Indra Praptono Bsc. SE, dan Toni Sumartono. Bsc. SE, dan kemudian di konsultasikan kepada Jansen Hutapea, senior radiographer Dosen Biasa D3 Radiologi FK Unair Surabaya. Dari penelitian ini, terbukti adanya Relic suci di dalam arca Maha Nandi, hal ini sejalan dengan penemuan arca emas pasangan dewa yg saling berpegangan tangan (koleksi Museum Nasional) penemuan di Gua Gunung Seplawan, Donorejo, Kaligesing, Purworejo, Jawa Tengah. Menurut referensi Martowikrido 1999:41, bahwa benda benda suci dimasukkan sebagai relic untuk "mengundang kehadiran dewa" (Domela Nieuwenhuis, 1983) bahkan disebutkan tanpa relic kegiatan ibadah tidak sempurna bahkan membahayakan (dewa marah) dengan demikian terbukti praktek memasukkan  relic ke arca adalah praktek Hindu Budha yg sudah berkembang jauh sebelum abad ke IX Masehi.

Dengan penemuan adanya Relic Maha Nandi dengan teknologi X-ray memungkinkan analisa dan identifikasi benda cagar budaya dimasa yang akan datang tanpa harus membuka “Lak” atau semacam segel penutup yang biasa digunakan dari getah tanaman untuk menutup arca yg memiliki Inskripsi mantra dari bahasa Sanserkerta/ Sanskrit kuno didalam relic sebagai roh dan kekuatan Magis Arca. Penemuan penggunaan X-ray untuk proses identifikasi Benda cagar budaya ber relic dari LOGAM MULIA bisa dikatakan sebagai yang PERTAMA di DUNIA kepurbakalaan.  Identifikasi Maha Nandi dengan teknologi X-Ray ini disponsori langsung  program Corporate Social Responsibility  TOTAL QUALITY INDONESIA sebagai bentuk kepedulian masyarakat terhadap pengembangan dunia cagar budaya di Indonesia sesuai dengan UU cagar budaya no 11 tahun 2010.


Maha Nandi resmi didaftarkan sebagai Benda Cagar Budaya Nasional di BP3 Trowulan dengan no 3578/B/33 pada 20 April 2011. Setelah pengujian dan kajian ilmiah yang ditangani langsung oleh Prof. Dr. Timbul Haryono, M.Sc Pakar Logam purbakala Indonesia dari Universitas Gajah Mada Jogjakarta, Diperkirakan Maha Nandi sebuah adi karya “Masterpiece” berasal dari Jawa tengah pada abad VIII hingga abad ke X dengan kelangkaan sebagai satu satunya nandi yg digambarkan dengan ekor dan kepala menengadah keatas sebagai lambang superioritas Maha Nandi, Arca ini ditaksir oleh sebuah balai lelang internasional di London senilai US $2 juta hingga US $6 juta dengan sebutan “The Highly Important Bronze Gold figure of Nandi with relic”. Arca Maha Nandi “Masterpiece” Indonesia ini sendiri dipastikan tidak akan keluar dari Indonesia sebab sudah didaftarkan sebagai Benda Cagar Budaya Indonesia oleh Bpk. Aris Soviani Pejabat BP3 Trowulan.