Corporate Social Responsibility Program By

PT . TOTAL QUALITY INDONESIA

arca mahanandhi

Font Size

SCREEN

Profile

Layout

Menu Style

Cpanel

Jika Romo Berkati Benda Cagar Budaya Hindu-Buddha

Sabtu (4/2/2012) sore itu begitu berbeda di Graha Total Quality, Jl.Jemursari 85 B. Biasanya lantai 3 kantor ini digunakan sebagai ruang kerja Johan Yan CEO-nya. Tapi siang ini, belasan orang mengenakan Ji Bao (pakaian tradisional Tiong
Hoa) tampak khusyuk terbawa alunan instrumen liturgis. Mereka mengikuti prosesi yang unik dan langka, Misa dan pemberkatan benda cagar budaya peninggalan Hindu-Buddha. Prosesi ini dipimpin Romo Petromualdus Charly Krowa, Pr, Imam Diosesan dari Keuskupan Ruteng, Flores, NTT. Mengawali misa, Romo Petromualdus menyampaikan salam ucapan selamat merayakan Imlek Cap Go Meh.


Johan Yan CEO Total Quality penyelenggara prosesi ini mengatakan ada beberapa nilai pencerahan yang ingin disebarkan lewat prosesi ini. “Kami ingin mengaktualisasikan nilai nilai penghormatan kepada budaya dan leluhur bangsa dengan prosesi pemberkatan benda cagar budaya Indonesia,” kata dia. Diantara benda cagar budaya yang diberkati siang ini, Arca Maha Nandi peninggalan era Hindu-Buddha abad ke-8 Masehi yang pernah dihargai sebuah balai lelang di Inggris senilai US$6 juta,
Durga Mahesasuramardhini dari abad ke-9 Masehi, Keris Kanjeng Kyahi Nogo Topo dari era Kerajaan Pajajaran, dan tombak Kanjeng Kyahi Rengkol dari era Kerajaan Pengging awal abad 18.


Menurut Johan Yan, kepeduliaan masyarakat Indonesia akan benda benda cagar budaya masih cukup memprihatinkan. “Masih ada sesama kita, warga Indonesia yang sengaja merusak atau bahkan menjual benda cagar budaya keluar negeri. Ini sangat memprihatinkan,” katanya. Padahal benda cagar budaya adalah identitas bersama warga bangsa ini, menembus batas suku, agama, dan ras. Untuk itu berdekatan dengan Hari Raya Cap Go Meh, Johan Yan yang pemeluk Katolik Roma ini berinisiatif untuk menggelar prosesi inkulturasi. Pemberkatan benda cagar budaya oleh Imam Diosesan, menurut Johan Yan, adalah upaya untuk melibat Gereja Katolik mengkonservasi benda cagar budaya. Merangkul entitas-entitas budaya lokal merupakan kebijakan Gereja Katolik dalam Konsili Vatikan II yang tertuang dalam dokumen Gaudium et Spes. “Dokumen ini menekankan penting dan mendesaknya peran aktif umat Kristiani untuk upaya penyelamatan dan pengembangan kebudayaan,” tuturnya.


Pada sisi lain, pelibatan entitas kultural Tiong Hoa bukan tanpa sebab. Johan Yan sendiri yang keturunan Tiong Hoa merasa nilai Cap Go Meh sangat klik dengan upaya melestarikan benda cagar budaya. “Pada hari terakhir perayaan Imlek, seluruh masyarakat Tionghua berkumpul untuk bersyukur kepada Tuhan atas keluarga, leluhur dan semua kebaikan yang mereka alami. Sebuah Peristiwa kebudayaan yg sarat dengan nilai nilai kemanusiaan. Pada malam terakhir ke-15 itulah kita diminta untuk menghargai dan menghormati leluhur bangsa kita,” kata dia. Menghormati leluhur, menurut Johan Yan, sangat mungkin untuk diaktualisasikan dengan lebih peduli pada benda cagar budaya. “Imlek Cap Go Meh adalah waktu paling tepat untuk menyebut bangsa ini sebagai ‘keluarga’ dan benda cagar budaya sebagai ‘harta kita bersama’. Jangan sampai hilang hartaku dan hartamu....” pungkasnya.(edy)