Corporate Social Responsibility Program By

PT . TOTAL QUALITY INDONESIA

arca mahanandhi

Font Size

SCREEN

Profile

Layout

Menu Style

Cpanel

PEMBERKATAN BENDA CAGAR BUDAYA

Prosesi Misa dengan Mengenakan Busana Ji Bao

Perpaduan dua budaya terlihat kental dari ruang persembahyangan kantor Total Quality (TQ) di kawasan Jalan Jemursari,kemarin.Beberapa di antaranya mengenakan pakaian Ji Bao,busana tradisional Tionghoa.
Johan Ya,pemilik TQ,ikut terbawa khusuk dalam lantunan pujian-pujian pada Tuhan. Johanmemang sedang menjalankan ritual unik. Lebih dari dua jam lamanya,ia ikut menjalani misa,prosesi pemberkatan pada bendabenda cagar budaya peninggalan Hindu-Budha. Ada empat koleksi benda cagar budaya yang diberkati oleh Romo Petromualdus Charly Krowa.


Di antaranya keris Kiai Kanjeng Nogotopo dari era Kerajaan Pajajaran,keris Kiai Kanjeng Rengkol dari era Kerajaan Pengging awal abad ke-18,patung Durga Mahesa Sura Madini dari Abad ke-9 dan arca relicMahanandi dari abad ke-8 dan pernah dihargai sebuah balai lelang di Inggris senilai Rp60 miliar. Misa yang dilakukan bertepatan pada perayaan Cap Go Meh,puncak perayaan Imlek,ini membuat pastur Imam Diosesan dari Keuskupan Ruteng,Flores,NTT mengucap selamat.
“Ini adalah sebuah prosesi ritual yang unik,karena menggabungkan antara perayaan Cap Go Meh, Ekaristi serta pemberkatan pada patung Bunda Maria,” tuturnya. Meski begitu,ritual ini tetap sakral.“Memberkati benda cagar budaya itu bukan berarti kita menjadikannya sebagai berhala,”tegas Romo Petromualdus.
Justru, pemberkatan ini adalah bentuk toleransiMenurut Romo Petromualdus, pemberkatan yang diberikan pada empat koleksi Johan Yan yang dimiliki sejak dua tahun lalu merupakan bagian dari peran gereja untuk ikut melestarikan nilai warisan budaya. “Pemberkatan ini diharapkan bisa menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam melestarikan dan mencintai benda serta nilai-nilainya sebagai warisan budaya,” imbuhnya.
JohanYan menambahkan, pemberkatan pada keempat benda cagar budayanya itu bukanlah suatu bentuk “mendewakan”benda peninggalan.“Prosesi ini dilakukan sebagai penghormatan pada budaya serta leluhur,”tuturnya. Prosesi pemberkatan ini, ungkap Johan,dilakukan karena keprihatinan dari sejumlah masyarakat yang masih menganggap enteng benda-benda cagar budaya yang harusnya dijaga dan dilestarikan. “Masih sedikit yang mengerti tentang nilai benda cagar budaya,karena itu dengan mudahnya mereka (masyarakat) menghancurkan hingga menjualnya ke luar negeri,”tuturnya. Padahal,sambung Johan, benda cagar budaya adalah identitas bersama warga bangsa ini,menembus batas suku,agama,dan ras.Untuk itu berdekatan dengan Hari Raya Cap Go Meh,JohanYan yang pemeluk Katolik Roma ini menggelar prosesi inkulturasi. Dia mengatakan, pemberkatan yang melibatkan Gereja Katolik ini sebagai upaya merangkul entitasentitas
budaya lokal merupakan kebijakan Gereja Katolik dalam Konsili Vatikan II yang tertuang dalam dokumen Gaudium et Spes. “Dokumen ini menekankan penting dan mendesaknya peran aktif umat Kristiani untuk upaya penyelamatan dan pengembangan kebudayaan,”tuturnya.
Dan kultur etnis Tionghoa yang tersaji juga bukan tanpa alasan.Itu karena Johan merupakan keturunan Tionghoa merasa nilai Cap Go Meh sangat klik dengan upaya melestarikan benda cagar budaya. “Imlek Cap Go Meh adalah waktu paling tepat untuk menyebut bangsa ini sebagai ‘keluarga’ dan benda cagar budaya sebagai ‘harta kita bersama’.Jangan sampai hilang hartaku dan hartamu....,”pungkasnya.


EBI HARRIS
Surabaya