Corporate Social Responsibility Program By

PT . TOTAL QUALITY INDONESIA

arca mahanandhi

Font Size

SCREEN

Profile

Layout

Menu Style

Cpanel

HEBOH !!! Tumpek Landep, Langit Mendung Mendadak Bersibak

Hari Tumpek Landep yang jatuh setiap hari Sabtu bertepatan dengan wuku Landep, memiliki makna yang cukup dalam. Selain merupakan hari penyucian untuk mengasah ketajaman pikiran, juga sebagai upaya pelestarian dan penyelamatkan warisan budaya nusantara.

Hari Tumpek Landep merupakan hari penyucian (jamasan) untuk mengasah ketajaman seperti halnya perayaan bulan Suro dalam tradisi Jawa. Berbagai ritual mewarnai perayaan yang dilakukan umat Hindu dan para penekun spiritual untuk memuja Dewa Pasupati.Tak heran bila pada hari ini seluruh umat Hindu di Bali terlihat khusyuk.

Sejak pagi di rumah para umat bertebaran bau harum semerbak. Bau dupa dan wewangian menebar dari tempat suci, kamar hingga pekarangan. Keris dan tombak dihias sedemikian rupa untuk dihaturkan sesaji.


Demikian juga peralatan-peralatan terbuat dari besi seperti mobil, kulkas,TV, mesin cuci, komputer diberi sesaji.Tak lupa, tetabuhan gamelan Bali yang biasa dipakai mengiringi upacara keagamaan mengalun dari tape recorder sebagai wangsit bahwa . umat sedang melakukan upacara untuk pusaka dan benda-benda terbuat dari besi.

Pada hari Tumpek Landep umat Hindu di Bali melakukan ritual untuk berbagai pusaka dan senjata. Pada hari ini, umat Hindu memuja Dewa Pasupati  yang diyakini sebagai dewa yang memberi kekuatan dan berkah terhadap berbagai pusaka seperti keris, tombak, pedang dan berbagai senjata lainnya.


Semua pusaka, tidak hanya dikoleksi perorangan tetapi juga di tempat-tempat suci dikeluarkan untuk dihaturkan sesaji. Hampir dipastikan, seluruh senjata warisan leluhur juga dikeluarkan untuk diupacarai.

Hari Tumpek Landep yang jatuh tiap enam   bulan sekali, keris dan benda pusaka lainnya mendapat perlakuan khusus, dimandikan dan diupacarai. Pada hari ini berbagaijenis pusaka dan senjata tajam dihaturkan sesaji untuk mempertahankan yoni, tuah dan kekuatan pusaka tersebut.

"Namun bukan berarti ritual ini untuk menyembah keris, tetapi menghormati dan memelihara salah satu warisan leluhur," tandas Soelung Lodhaya, seorang kolektor
pusaka.

ARCA LEMBU NANDI
 
Ada yang istimewa dalam prosesi Tumpek Landep kali ini. Karena selain seluruh benda pusaka berbentuk senjata tajam seperti keris dan tombak dikeluarkan dari tempat penyimpanannya, area Lembu Maha Nandi yang merupakan benda cagar budaya dirituali di Bali.

Area wahana Dewa Siwa yang sudah berusia 1.200 tahun ini diupacarai di Puri Dalem Kelodan Anyar Tengah, Dauh Pura Madya, lingkungan Banjar Ambengan, Peliatan, Ubud.

Upacara terhadap benda sakral yang ditaksir senilai 6 juta USD oleh Balai Lelang International ini dipuja oleh Ida Pedanda Gede Jelantik Giri Puspa, disaksikan oleh penglingsir Puri Kelodan Anyar Anak Agung Gede Dalem Sudarsana.

Keajaiban pun terjadi saat penyucian dilakukan. Langit yang semula ditutupi mendung tiba-tiba terbelah oleh sinar matahari yang bergerak ke pusat sesaji dimanaArca Lembu Maha Nandi ditempatkan. Kejadian ini diyakini sebagai berkah Sang Hyang Pasupati terhadap area Maha Nandi yang baru ditemukan.

Area Maha Nandi ditemukan wilayah Jawa Tengah. Area wahana Dewa Siwa yang diperkirakan berasal dari abad ke-8 hingga ke-10 Masehi ini memiliki nilai yang sangat penting dalam khasanah ilmu arkeologi, sebab ditemukan dalam kondisi utuh, memiliki relik, berinskripsi dan lengkap dengan lak penutup relik.

Karena itu, area yang sudah sangat langka ini memiliki nilai arkeologi sangat tinggi, yang oleh Direktur Kepurbakalaan Indonesia Junus Satrio disebut sebagai Masterpiece Indonesia.

Area Maha Nandi ini berupa lembu (sapi) berekor tegak dan kepala menengadah ke atas dengan relik suci di dalamnya sebagai tanda penyatuan Dewa Siwa dalam din Maha Nandi.

Maha Nandi duduk di Padmasanaganda, dengan hiasan sulur-suluran geometris di punggung dan mahkota. Penemuan relik suci berinskripsi kuno dilakukan dengan menggunakan teknologi X-Ray Digital 130 KV dengan Automatic.Exposure   non-destructive technique.

Seorang pakar Prof. Dr.Timbul Haryono, M.Sc memberikan beberapa catatan bahwa ada dua  macam tradisi pembuatan area logam di India yaitu Shasira dan Ghana. Biasanya, area terbuat dari logam dibuat dengan teknik rongga untuk penyimpa«an relik suci. Area Maha Nandi dibuat dengan teknik tersebut yang dalam bahasa latin disebut Acire Perdue atau Lost Wax Methode.


LAMBANG KESUBURAN

Area Maha Nandi sebagai wujud Lembu Nandini tidak lain sebagai lambang ibu pertiwi dan kesuburan. Lembu Nandini, menu-rut konsep Hindu, merupakan wahana atau tunggangan Dewa Siwa.

Tiga dewa dalam konsep Hindu disebut Tri Murti. Ketiga dewa tersebut adalah Brahma sebagai dewa pencipta. Wisnu sebagai pemelihara dan Siwa sebagai pelebur. Masing-masing dewa memiliki kendaraan atau tunggangan berupa binatang. Brahma memiliki kendaraan berupa burung angsa, Tunggangan Dewa Wisnu berupa burung garuda, sedangkan Dewa Siwa berupa seekor lembu berna-ma Lembu Nandini.

Menurut budayawan Drs. I Gede Anom Ranuara, S.Sn, kendaraan ata.u tunggangan sebuah wahana, lambang atau tem¬pat. Lembu Nandini sebagai kendaraan Dewa Siwa, sesuai filosofi Hindu, adalah sebuah wahana atau lambang kesuburuan. Kesuburan tersebut tidak lain adalah bumi pertiwi sebagai tempat manusia dan semua makhluk hidup dan berkembang biak.

Sedangkan Dewa Siwa yang duduk di atas Lembu Nandini dimaknai sebagai jiwa yang memberi hidup kepada setiap makhluk. Semua kehidupan di alam ini tidak lepas dari kedua hal tersebut yaitu tempat hidup (bumi pertiwi) yang memberikan kesuburan dan jiwa yang memberikan kehidupan. Dewa Siwa dengan Lembu Nandini, terang ketua perhimpunan dalang wayang Kota Denpasar ini, juga dimaknai sebagai lambang purusa (laki) dan predana (perempuan). Lembu Nandini sebagai pertiwi adalah lambang predana (perempuan), sedangkan Dewa Siwa yang duduk di atasnya adalah lambang purusa (laki-laki), yang artinya bahwa kehidupan di dunia ini tidak akan berjalan jika tidak ada laki-laki dan perempuan.

Kerena itu, keduanya harus menyatu.

Banyak cerita yang mengisahkan tetang keberadaan Lembu Nandini sebagai lambang kesuburan. Dalam kisah Mahabharata, tokoh Krisna diceritakan sebagai pengembala lembu untuk dicari susunya sebagai sumber petighidupan bagi masyarakat. Cerita Tantri (cerita tentang binatang atau fable) juga mengisahkan peran Lembu Nandini untuk menguji kesabaran si raja hutan dan anjing. Dalam kisah yang lain, Lembu Nandini juga diutus untuk menguji keberadaan seorang pendeta.

TEMPAT JENASAH

Begitu mulianya makna kendaraan Dewa Siwar ini, sampai-sampai hewan ini dipakai sebagai sarana atau perangkat upacara Hindu di Bali. Dalam rangkaian upacara penyucian roh leluhur yang disebut memukur/ngeroras (setelah ngaben), lembu dipakai sebagai sarana ritual Purwa Daksina. Lembu dituntun mengitari kawasan upacara yang diiringi Puspa sebagai stana roh leluhuri. Menurut keyakinan, lembu berwar-na putih inilah yang akan mengan-tarkan roh menuju alam Siwa karena makna dari upacara memukur adalah mengembalikan roh pada asalnya atau alam Siwa.

Dalam upacara ngaben, masyarakat yang memiliki kasta tertentu menggunakan patung
lembu berwarna hitam sebagai tempat jenasah saat dibakar. Hal ini diyakini sebagai kendaraan untuk mengantarkan rohnya menuju alam Siwa.

Demikian juga para brahmana (pendeta Hindu) yang meninggal, saat prosesi ngaben, jenasahnya ditempatkan di patung lembu berwarna putih. Maksudnya, para brahmana yang telah melampaui tatanan upacara Dwijati (proses ritual untuk menjadi pendeta) adalah sosok Siwa secara nyata.

Saat para brahmana (pendeta) memimpin upacara, ia dimuliakan sebagai Siwa. Ketika meninggal, jenasahnya ditempatkan di patung lembu sebagai kendaraan Dewa Siwa.

Demikian mulianya hewan ini, maka umat Hindu tidak diperke-nankan memakan daging lembu. Barang siapa berani memakan daging lembu, mereka terkena sumpah Cendala (kotor), sehingga diyakini akan kehilangan pamor, aura dan wibawanya sebagai manusia.
 
Entah bagaimana proses pema-hamannya, lembu diidentikkan dengan sapi. Sebagai hewan kendaraan Dewa Siwa yang dimuliakan, maka umat Hindu di Bali, khususnya orang-orang suci pemamgku dan pendeta, pantang makan daging sapi. Mereka yang berani memakan daging sapi, akan terkena sumpah Cendala.

Beberapa orang mengaku, ketika memakan daging sapi, kepalanya mendadak pusing, bingung, muntah-muntah, hingga kesurupan.

Karena itu untuk memaknai filosofi ini dibuatlah berbagai atribut seperti halnya area Maha Nandi. Sebagai bentuk penghormatan untuk mempertajam makna dari nilai-nilai yang terkandung, benda-benda yang masuk sebagai benda pusaka diupacarai tiap hari Tumpek Landep.

Tidak hanya oleh perseorangan yang memiliki benda pusaka beru-pa keris, beberapa instansi pemerintah di Bali melakukan ritual untuk benda-benda terbuat dari besi termasuk peralatan perang seperti tang dan berbagai jenis senjata api. Memaknai perayaan ini, Pemkot Denpasar juga menggelar pameran di depan Museum Bali dengan tajuk Pitenget Tumpek Landep. (Liberty Edisi 1-10 Agustus 2012)