Corporate Social Responsibility Program By

PT . TOTAL QUALITY INDONESIA

arca mahanandhi

Font Size

SCREEN

Profile

Layout

Menu Style

Cpanel

Ide Heboh Museum Mahanandi Datangkan Duit Bagi Museum-Museum Minus di Jawa Timur

Ungkapan “Jas Merah” (jangan sekali kali meninggalkan sejarah), sudah sangat akrab ditelinga masyarakat, terutama para penggiat kebudayaan dan museum. Bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai sejarah bangsanya, namun sayang hal tersebut sering kali tidak diikuti dengan perhatian masyarakat dan pemerintah terhadap perkembangan museum-museum di daerah.

Kondisi museum yang sangat memperihatinkan sebagai organisasi nonlaba, pencurian dan kerusakan koleksi, belum lagi keterbatasan dana dan panjangnya birokrasi pemerintah dalam menyalurkan bantuan membuat museum benar benar lepas dari skala prioritas pemerintah daerah, kesadaran masyarakat yang rendah untuk menjadikan museum sebagai rujukan pendidikan dan pariwisata membuat pemerintah provensi jawa timur dinas kebudayaan dan pariwisata merasa perlu untuk meningkatkan managerial pengelola museum museum di wilayah jawa timur.
 
Dalam rangka mengoptimalkan peran museum sebagai tempat studi dan rekreasi dinas kebudayaan dan pariwisata provensi Jawa Timur menyelenggarakan kegiatan bertajuk “Workshop Managerial Pengelola Museum” kegiatan pelatihan soft skill ini dimaksudkan pula untuk mempersiapkan kemampuan pengelola museum terhadap tantangan MEA (Masyarakat Ekonomi Asia) yang sudah diambang pintu kesiapan pemprof Jatim untuk menjadi tuan rumah wisata asia benar benar diuji dalam kegiatan yang dilaksanakan dari tanggal 26 hingga 28 Januari 2006 di Hotel Purnama Jl. Raya Selecta no 1 -15 Batu.
 
Workshop managerial tersebut di kemas dalam 6 sesi pelatihan strategis, oleh pembicara professional di luar museum hal ini diharapkan dapat membuka wawasan pengelola museum untuk keluar dari kungkungan tembok museum yang tebal, sudah waktunya pengelola museum berfikiran terbuka menerima wawasan yang baru, ujar Drs. Dwi Suprianto MM kepala seksi permuseuman dinas kebudayaan dan pariwisata provensi Jawa timur.
 
Acara tersebut antusias diiukti oleh 22 museum swasta dan sekitar 23 museum pemerintah, pemateri yang memberikan workshop adalah para professional dibidangnya sebut saja, Wuryanano seorang motivator, Christine wu pemilik swastika prima entrepreneur collage, Diah Gardenia pakar komunikasi yang membawakan sesi Public Speaking bagi pemandu museum, Titik S Ariyanto Manager operational museum angkut, Syariffudin kurator senior yang membawakan sesi pengelolaan Display display koleksi museum dan Dwi Cahyono ketua AMIDA Jatim yang mengulas tentang kerjasama dan kemitraan museum.
 
Dalam kesempatan tersebut para peserta aktif bertanya jawab dan memberikan masukan, ajang workshop pun menjadi ajang curhat kebutuhan museum didaerah. Mereka banyak mengeluhkan panjangnya birorasi dan kurangnya perhatian pemerintah terhadap pendanaan museum. uniknya tidak disangka sangka dalam workshop tersebut ada seorang peserta pengelola museum yang diminta oleh seluruh peserta untuk maju dan memberikan pemaparan solusi singkat untuk menarik dana CSR korporatif sebagai alternative pendanaan museum, kejadian tersebut cukup menarik perhatian seluruh pemateri dalam workshop tersebut. ternyatapemaparan sederhana yang dilakukan oleh Motivator kondang Johan Yan dari PT. Total Quality sebagai pemilik museum mahanandi mendapatkan apresasi peserta, “kini sudah saatnya museum membuka pintu dan jendela agar udara segar dapat masuk, stop mengemis dan berfikirlah kreatif untuk mendsatangkan 4 huruf,… D,.. U,.. I,.. T !!” teriaknya disambut tepukan panjang peserta, seketika kata "DUIT" diucapkan dengan lantang oleh sang motivator.
 
Tidak cukup dengan pemaparan “teknik menarik dana CSR korporasi bagi pendanaan museum” Johan Yan pun berbagi pengalaman museum mahanandi dalam mengedukasi para pengusaha untuk peduli dunia cagar budaya, lebih lanjut Johan Yan berkata “Museum mahanandi itu unik, kami selalu menjemput bola, kami tidak berdiam diri di tebalnya tembok museum, kami mendatangi masyarakat dan bahkan kami edukasi pebisnis untuk peduli dunia cagar budaya, kami himbau mereka untuk mengalirkan dana CSR untuk museum, tetapi kami tetap berkomitmen untuk tidak menerima dana tersebut, masih banyak museum museum minus didaerah, kami menyarankan mereka membantu museum museum minus didaerah bukan untuk museum kami, kepedulian masyarakat sudah cukup bagi kami”
 
"Ada begitu banyak dana Corporate Social Responsibility didunia usaha yang dialirkan bagi pengembangan kemanusiaan setiap tahun, namun tidak banyak yang peduli untuk mengembangkan budaya" kata Johan Yan mengungkapkan keprihatinannya. Gagasan menarik dana CSR yang dipresentasikan berawal ketika Museum mahanandi berhasil menghadirkan Pameran benda cagar budaya bertajuk "Private Exhibition of Indonesian Masterpiece", sebuah pameran cagar budaya yang sangat unik hingga mampu menarik perhatian lebih dari 80 direktur korporasi bisnis untuk keduli cagar budaya Indonesia. Pameran itu sendiri diadakan di hotel Meritus Surabaya pada tanggal 28 september 2012 lalu dibuka dengan pameran budaya dan ditutup dengan Director Diner Club bersama Prof. Dr. Timbul Haryono, M.A, M.Sc, Pakar Arkeometalurgi dari Universitas Gajah Mada, film dokumentasi pameran masterpiece 3 tahun yang lalu tersebut diputar kembali kepada peserta pengelola museum “Workshop Managerial Pengelola Museum” sehingga menginspirasi dan menyadarkan semua peserta, betapa pentingnya program kerja kreatif dimuseum untuk menarik minat pebisnis mengalirkan dana CSR bagi museum.
 
"Tidak bisa berpangku tangan kepada pemerintah saja, ini panggilan kita semua, masyarakat bisnis, dan dunia usaha harus bisa melihat program CSR ini sebagai peluang untuk dapat dikenal masyarakat luas" ujar Johan Yan, "Gerakan kepedulian ini bersifat edukatif, eksekusinya kami serahkan kepada masing masing korporasi untuk berkiprah dengan cara masing masing" ujar Johan Yan menutup pemaparannya.
 
Dalam sambutan penutup Drs. Dwi Suprianto MM kepala seksi permuseuman dinas kebudayaan dan pariwisata provensi Jawa timur berkata “seharusnya sesi dibuat 7 bukan 6, saya baru tahu pemilik museum mahanandi adalah seorang motivator dan budayawan, kapan kapan bantu kami pak untuk merebut hati pebisnis peduli mendatangkan D,…U,…I,…T,… bagi museum” katanya sambil diiring tepuk tangan peserta yang panjang.