Corporate Social Responsibility Program By

PT . TOTAL QUALITY INDONESIA

arca mahanandhi

Font Size

SCREEN

Profile

Layout

Menu Style

Cpanel

Sambut MEA Museum Mahanandi Kampanye, Direktur Menangis

JAKARTA- Pengelola Museum Mahanandi Surabaya, Johan Yan, melontarkan gagasan perlunya dana "CSR" dari korporasi/industri untuk pengembangan museum agar tak bergantung pada pemerintah. Dalam hal ini diperlukan kreatifitas bagaimana bisa menggerakkan kalangan korporasi/ industri untuk peduli dalam upaya pelestarian dan peyelamatan benda cagar budaya. Berawal dari gagasan itulah Total Quality Indonesia dalam acara yang bartajuk Director Dinner Club "New Year, New Hope, New Generation", mengkampanyekan tentang pentingnya upaya penyelamatan benda cagar budaya di depan 78 direktur yang hadir dalam acara tersebut.

Dalam  acara yang diselenggarakan Ballroom D'Cost VIP Jakarta pada 20 Februari 2016 itu, dikemukan bahwa  sangat diperlukan support dalam kalangan pebisnis dalam upaya peyelamatan benda cagar budaya di Indonesia, karena banyaknya keluhan dari para pengelola museum mengenai panjangnya birokrasi dan kurangnya perhatian pemerintah terhadap pendanaan museum. Hal ini sangat penting dilakukan agar kelak nanti anak cucu kita nanti tidak lupa akan sejarah dari bangsa ini.

 

"Museum Mahanandi yang kami kelola itu unik, kami selalu menjemput bola, kami tidak berdiam diri di balik tembok museum, kami mendatangi masyarakat dan bahkan kami edukasi pebisnis untuk peduli dunia cagar budaya akan tetapi kami berkomitmen untuk tidak menerima sumbang dalam bentuk apa pun dari masyarakat ataupun dari pebisnis, hal ini kami lakukan hanya semata-mata untuk memberikan gambaran bahwa banyak museum-museum di Indoensia yang kurang mendapat perhatian dari pemerintah ," ujar Johan Yan.

Menurut dia, ada begitu banyak dana "Corporate Social Responsibility" yang dialirkan industri bagi pengembangan kemanusiaan setiap tahun, namun tidak banyak yang peduli untuk mengembangkan budaya.

Acara seperti ini sangat bagus untuk memberikan edukasi kepada para pebisnis untuk bisa peduli terhadap upaya pelestarian benda cagar budaya di Indonesia ungkap seorang budayawan sekaligus Kepala Rumah Sakit Paru Jember dr. Arya Sidemen yang juga hadir dalam acara tersebut .

"Saya terharu bahkan saya sempat meneteskan air mata, melihat nasib museum-museum di Indonesia yang terus berjuang melestarikan benda cagar budaya tapi minim dukungan dari pemerintah, saya mengucapkan terima kasih banyak kepada Pak Johan sudah memberi sumbangsih yang sangat besar kepada upaya pelestarian benda cagar budaya di Indonesia", tambah Arya mengakhiri sambutannya.

Dikesempatan yang lain Johan Yan menambahkan,"dalam kondisi terpuruknya meseum dan kecilnya kepedulian masyarakat, bukan tidak mungkin dengan datangnya MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) justru menjadi bumerang bagai pelestarian benda cagar budaya, tidak bisa tidak museum harus dilindungi, atas dasar tersebut kita gerakkan korporasi untuk mendukung gerakan penyelamatan benda cagar budaya dan animo dari 78 direktur yang hadir sangat besar, ini luar biasa!".

Pada kesempatan itu juga dibagikan DVD yang berisikan perjuangan CSR Total Quality Indonesia melalui Museum Mahanandi dalam upaya pelestarian dan penyelamatan benda cagar budaya. Diharapkan melalui DVD tersebut kalangan korporasi bisa tergugah akan pentingnya penyelematan benda cagar budaya di Indonesia.

Sesuai dengan UUCB 11/10 upaya pelestarian dan penyelamatan benda cagar budaya harus melibatkan peran aktif masyarakat ,tidak bisa hanya  mengadalkan pemerintah saja, Indonesia terlalu kaya .  Pemerintah bukan satu-satunya yang bertanggung jawab melestarikan, ini tanggung jawab bersama. Semoga melalui acara ini  bisa menumbuhkan rasa cinta para pelaku bisnis tentang budaya bangsa ini, sehingga para pelaku bisnis bisa tegerak untuk ikut andil dalam upaya penyelamatan dan pelestarian benda cagar budaya serta bisa inspirasi bagi para pengelola museum-museum di Indonesia.