Corporate Social Responsibility Program By

PT . TOTAL QUALITY INDONESIA

arca mahanandhi

Font Size

SCREEN

Profile

Layout

Menu Style

Cpanel

Memenuhi Semua Persyaratan Ikonografi Arkeologis Abad ke-VIII

"Johan Yan termasuk sedikit orang yang punya kepedulian dalam upaya pelestarian benda cagar budaya. Terakhir, ia melakukan terobosan inkulturasi budaya dengan membuat wayang."

Bukan wayang biasa namun wayang arkeo Siwa Maha Dewa yaitu wayang dengan pendekatan arkeologi. Johan Yan mendesainnya berdasarkan Arca Siwa Maha Dewa dan Arca Maha Nandi. Sepintas bentuknya tak beda dengan layaknya wayang yang ada. Bahannya juga kulit asli, begitu jUga detail ukirannya yang  amat rumit.  Namun jika diperhatikan dengan seksama, wayang arkeo Siwa Maha Dewa ini memiliki banyak detil-detil arkeologis. Lewat detil itulah ada hal yang ingin dikomunikasikan Johan sebagai penciptanya. Misalnya adanya Sirascakra, Trinetra, Nilakantha, Laksatrisula. Ardhacandrakapala yang berdiri di atas Maha Nandi. Ciri-ciri ini membuat wayang arkeo menjadi sangat istimewa dalam sudut pandang arkeoiogi karena memenuhi semua persyaratan ikonografi arkeologis abad ke VIII.


Dijelaskannya, di dalam kitab Mahabarata, Siwa Maha Dewa adalah dewa tertinggi diantara para dewa. Sebutan lain Trinetra, yang artinya bermata tiga. Sebutan ini terjadi ketika tapa Siwa dibangunkan oleh Dewa Kama agar membunuh asura bernama Tataka yang mengganggu para dewa.

Siwa Maha Dewa juga disebut Nilakantha karena lehernya berwarna biru akibat racun yang keluar dari samudra. Untuk menjaga agar racun tidak mematikan para dewa terkena Karma Manusia, Siwa meminum racun tersebut.

Agar racun tidak menjalar ke tubuhnya, maka Dewi Parwati menekan leher Siwa. Akibatnya racun terhenti di leher dan membekas berwarna biru.

Sebenarnya ada begitu banyak cerita motivasi dan kepahlawanan yang dapat diambil hikmahnya dari wayang arkeo ini, contohnya Siwa Maha Dewa dalam wayang arkeo ini bercawat kulit harimau.

Di dalam kitah Suprabhedgama disebutkan ketika Siwa pergi ke hutan dengan menyamar sebagai pengemis untuk menguji para pendeta.
Para pendeta marah akan kedatangan pengemis, dan mereka  dengan kekuatan magis menciptakan seekor harimau untuk menyerang Siwa. Namun harimau dapat dibinasakan dan kulitnya oleh Siwa dijadikan pakaian. Para pendeta kemudian menciptakan seekor ular, namun ular itu pun dapat ditangkap dan dibuat sebagai perhiasan Siwa.

"Cerita ini memiliki makna kesucian seseorang tidak ditunjukkan dengan jabatan dan ucapan tetapi dengan teladan dan tingkah laku." kata Komisaris Total Quality Indonesia itu.