Corporate Social Responsibility Program By

PT . TOTAL QUALITY INDONESIA

arca mahanandhi

Font Size

SCREEN

Profile

Layout

Menu Style

Cpanel

Riset dari Dua Kitab Kuno, Abadikan Masterpiece Maha Nandi dalam Ukiran

Johan Yan punya alasan mengapa ia menciptakan wayang arkeologi Siwa Maha Dewa. Ada banyak keprihatinan yang Ingin ditepisnya dengan wayang ini.

Awal  ide pembuatan wayang arkeo ini bermula ketika berlangsung Konggres Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) 1 - 3 November 2011 dengan tema 'Arkeologi Bagi Publik. Dalam pikiran Johan, tema yang visioner tersebut tidak dapat dipahami oleh masyarakat luas jika hanya diangkat sebatas wacana konggres.


"Ironis sekali masyarakat kita lebih mengenal benda cagar budaya Mesir seperti mummy, dibandingkan Siwa Maha Dewa, Durga Mahesasuramardhini, atau Maha Nandi. dan bukan mustahil 500 tahun kemudian kita akan benar-benar menjadi bangsa yang kehilangan identitas." ujar Sebagai seorang budayawan sekaligus pemerhati benda cagar budaya itu.

Keprihatinan Johan inilah yang membuahkan sebuah terobosan inovatif di dunia budaya. Selayaknya para ahli sejarah dan arkeolog, lulusan sarjana arsitektur dari Universitas Kristen Petra angkatan 1992 itu pun melakukan riset pustaka terhadah arca Siwa Maha Dewa koleksi Museum National Indonesia (abad IX). Sumber yang sangat penting lainnya adalah arca Maha Nandi (abad VIII).

Arca senilai USD 6 juta itu kini menjadi koleksi pribadi Johan Yan yang tersimpan di museum mini di kantornya Total Quality Indonesia di Jalan Jemursari. Arca Maha Nandi yang menjadi benda cagar budaya kesayangan Johan dan merupakan masterpiece Indonesia ini terukir di bagian bawah wayang yang dalam sumber sejarah digambarkan  kendaraan Siwa Maha Dewa dengan ujung ekor naik serta kepala yang mendongak.

Dari riset itulah pria yang akrab disapa Koko atau KK saja itu membuat wayang arkeo. Penyelesaian wayang arkeo Siwa Maha dewa ini memakan waktu sekitar empat bulan. Waktu selama itu dibutuhkan Johan untuk mempelajari dua buah kitab kuno rujukan yaitu Kitab Mahabharata dan Kitab Suprabhedgama. "Ini bukan wayang rekaan makanya riset berdasarkan fakta sejarah yang benar harus saya lakukan.'" kata pria berdarah Tionghoa itu.

Untuk mewujudkan ide kreatifnya itu. Johan Yan bekerja sama dengan seorang juru ukir wayang ternama dari Surakarta, Ahrif Kusmiyanto. Ia memilih kulit kerbau pilihan sebagai bahan wayang. Selama pembuatan yang memakan waktu satu bulan, setiap detil wayang arkeo itu selalu dipantau oleh Johan Yan hingga ia rela bolak-balik Surabaya-Surakarta.
"Saya juga ikutan natah lho karena saya tak ingin ada kesalahan sedikit saja dalam ukirannya. Terutama saat finishing, saya sangat jeli memantau pembuatan dan menatah sampai tuntas terutama bagian tiga mata ketiga wayang." tegasnya.