Corporate Social Responsibility Program By

PT . TOTAL QUALITY INDONESIA

arca mahanandhi

Font Size

SCREEN

Profile

Layout

Menu Style

Cpanel

Pertama di Dunia Budaya Indonesia "Wayang Arkeo Gagasan Johan Yan"

Tidak sedikit orang yang mau menyisihkan uangnya dan meluangkan waktunya untuk menyelamatkan dan menjaga kelestarian benda-benda cagar budaya bangsanya sendiri. Tetapi tidak untuk salah satu motivator terbaik di Indonesia yaitu Johan Yan, beliu sangat peduli dalam upaya penyelematan dan pelestarian benda cagar budaya. Salah satu upaya beliau dalam upaya penyelamatan dan pelestarian benda cagar budaya adalah  dengan melaui wayang, tetapi bukan sekedar wayang biasa yang sering kita lihat   di pementasan wayang kulit melainkan wayang arkeo yang dibuat sendiri oleh beliau.

 

Dengan menggunakan bentuk dasar arca Siwa Mahadewa yang ada di Museum Nasional Jakarta, Johan Yan membentuk wayang arkeo itu. Bahan yang digunakan kulit kerbau. Sedangkan pemahatnya sendiri adalah seniman wayang Ahrif Kusmiyanto dari Solo. Tidak sekadar membentuk Siwa, Johan yang merupakan alumni Arsitek UK Petra itu, lebih dulu riset pustaka dari Kitab Mahabaharata dan Suprebedagama. Ditambah buku ulasan relief arca Siwa dari Jerman berjudul Nersunkene Konigreiche Indonesia (Benda di Indonesia Yang Menginspirasi).

"Hasil dari pembelajaran itu, baru saya masukkan dalam relief wayang yang memiliki makna dan cerita," ujar Johan Yan. Sepintas wayang ini tak beda dengan wayang umumnya. Tapi, begitu diperhatikan secara seksama, ada banyak detil-detil arkeologis yang ingin dikomunikasikan Johan Yan. Adanya Sirascakra, Trinetra, Nilakantha,  Laksatrisula, Ardhacandrakapala dan berdiri di atas Arca Maha Nandi, membuat wayang ini sangat istimewa dalam sudut pandang arkeologi, karena memenuhi semua persyaratan ikonografi arkeologis abad ke-8.Lebih lanjut di jelaskan dalam Kitab Mahabharata, Siwa adalah dewa tertinggi di antara para dewa. Sebutan lain Trinetra, artinya bermata tiga. Siwa juga disebut Nilakantha karena lehernya berwarna biru akibat racun dari samudra.

Sebenarnya ada begitu banyak cerita motivasi dan kepahlawanan yang dapat diambil hikmahnya dari wayang Arkeo ini. Contohnya, Siwa dalam wayang arkeo ini bercawat kulit harimau. Dalam Kitab Suprabhedagama disebutkan Siwa pergi ke hutan, menyamar sebagai pengemis untuk menguji para pendeta. Para pendeta marah kedatangan pengemis dan menciptakan seekor harimau untuk menyerang Siwa. Namun harimau dapat dibinasahkan dan kulitnya oleh Siwa dijadikan pakaian. Para pendeta kemudian menciptakan seekor ular. Namun ular itu pun dapat ditangkap dan dibuat perhiasan.

Cerita ini memiliki makna kesucian seseorang tidak ditunjukkan dengan jabatan dan ucapan, tetapi dengan teladan dan tingkah laku. "Tujuan saya hanya satu, dengan wayang ini bisa dijadikan sebagai alat kampanye bangsa ini dalam mencintai benda cagar budayanya sendiri, wayang adalah sarana saya untuk memperkenalkan kepada masyarakat, visi arkeologi bagi publik harus dapat diwujudkan", ujar Johan Yan. Wayang ini dibuat dalam waktu empat bulah, dengan biaya Rp 3,5 juta untuk bahan kulit dan tanduk kerbau yang digunakan sebagai pegangannya. Sementara hingga proses penyelesaiannya, memerlukan dana sekitar Rp 7,5 juta.