Corporate Social Responsibility Program By

PT . TOTAL QUALITY INDONESIA

arca mahanandhi

Font Size

SCREEN

Profile

Layout

Menu Style

Cpanel

Arca Maha Nandi Cerminan Energi Siwa

Jumlah arca Nandi di Indonesia cukup banyak khususnya area batu, akan tetapi jumlah arca Nandi yang dibuat dari bahan logam amat jarang, bahkan barangkali area logam Maha Nandi ini satu-satunya. Mungkin sekali area logam Maha Nandi ini termasuk dalam sistem pemu-jaan 'kula dewata' yaitu pemujaah di dalam komunitas kecil.

Nandi adalah dewa yang pegang peran penting di dalam pantheon Hindu Perwujudannya bisa sebagai zoomorfis (binatang) yang disebut Vrsabha putih. Nandi adalah wahana atau kendaraan Dewa Siwa, bersa-ma dengan Mahakala bertugas menjaga pintu gerbang Surga Dewa Siwa dan Dewi Parwati. Nandi juga melambangkan kesuburan.


Di dalam kebudayaan 'paleo-oriental', lembu menjadi perlambangan kekuatan dan tanduk lembu bermakna memiliki kekuatan yang lebih. Menurut Frobenicus, lembu hitam ada kaitannya dengan lam-bang dunia kematian. Maka ketika ada seorang raja meninggal, ia akan ditempatkan di dalam peti mati  yang berbentuk seperti lembu (seperti dalam upacara ngaben di' Bali).

Di lukisan Mesir kuno, ada gambar lembu hitam yang membawa mayat di atas punggungnya. Lembu merupakan lambang penghubung atau titik atau wilayah peralihan antara unsur api dan unsur air yang melambang-kan penghubung antara surga dan dunia.

Nandi berarti cerminan sifat energi Siwa. Karenanya, lembu pun mendapat penghormatan sendiri dan diarcakan tersendiri di dalam beberapa candi. Nandi dikenal sebagai penjaga rumah Siwa dengan nama Viraka. Di dalam kitab Braddharadadharma Purana, Nandi dikenal sebagai pembantu Siwa.

Tantu Panggelaran menyebutkan Nandi dalam perwujudan sebagai lembu di dalam ceritera pemindahan Gunung Mahameru ke Pulau Jawa untuk menambah beban agar Pulau Jawa tidak goyang, Setelah para dewa berhasil memindahkan Mahameru, Batara Guru memberi hadiah kepada Dewa Brahma seekor Hamsa putih, DewaWisnu, memperoleh Garuda, dan Iswara memperoleh Vrsaba putih. ( Prof.Dr. Timbul Haryono, dalam Liberty Edisi 10-20 Oktober 2012)