Corporate Social Responsibility Program By

PT . TOTAL QUALITY INDONESIA

arca mahanandhi

Font Size

SCREEN

Profile

Layout

Menu Style

Cpanel

Ikhtiar Menjaga Spirit Leluhur

"Benda-benda purbakala ini diboyong ke hotel berbintang, sebagai upaya untuk menghasratkan kembali penghargaan dan kecintaan terhadap warisan budaya yang sarat dengan nilai spiritualitas"

Puluhan orang berpakaian batik itu dengan seksama memperhatikan beberapa benda purbakala yang terpa-jang rapi di Singasari Room, Meritus Hotel - Surabaya. Dengan penuh perhatian, mereka mendengarkan penjelasan Johan Yan, budayawan yang juga komisaris PT Total Quality (TQ) Indonesia, pemilik benda-benda cagar budaya tersebut.

Terdorong oleh rasa kagum sekali-gus hormat kepada benda-benda warisan leluhur, Johan Yan sengaja menggelar pameran benda-benda bernilai historis tinggi yang selama ini menjadi koleksinya. la sengaja mengundangpara eksekutif pemimpin perusahaan di Surabaya untuk bersama-sama melihat dan memberikan apresiasi terhadap benda-benda cagar budaya tersebut.

Bagi Johan, acara semacam itu tak hanya bermakna pameran semata, tapi juga punya misi revitalisasi pengetahuan tentang benda-benda cagar budaya sebagai warisan adiluhung masa lalu. Menurutnya, benda-benda itu dibuat oleh seniman-seniman handal dengan perhitungan yang rumit. Bukan hanya penentuan bahan dan ornament bentuk, tetapi juga nilai filosofi yang terkandung di dalamnya.


"Semuanya memiliki kaidah-kaidah khusus, bahkan dalam proses pembu¬atannya sang seniman juga harus men¬jalani laku tertentu, jadi bisa dibayang-kan bagaimana filosofi yang terkandung juga energi yang tersimpan di dalam¬nya," paparnya.

Energi itu pula yang menarikjohan untuk menyimpan benda-benda tersebut. Dua belas tahun silam, ia menerima sebuah area perunggu Maha Nandi dari keluarga YanTek Hao.

Arca yang ditemukan pertama kali pada 1998 itu ternyata sangat istimewa. Selain penuh suasa emas kuno dan pati¬na otentik yang sangat indah dan langka dengan relic suci Siwa di dalamnya.

Prof. Dr.Timbul Haryono, M.A, M.Sc, Pakar Arkeometalurgi dari Universitas Gajah Mada, memberikan kesaksiannya perihal area kuno tersebut,"Maha nandi dibuat pada periodisasi gaya JawaTengah abadVIII ini adalah Temuan Arca  logam wahana Dewa Siwa yang sangat langka dan memiliki nilai yang sangat penting di dalam khasanah ilmu arkeologi, sebab ditemukan dalam kondisi utuh , memiliki relik, berinskripsi  dan lengkap dengan penutup relik"

Relik adalah benda suci yang dimasukkan  ke dalam bebnda pemuajaan untuk mengundang  kehadiran dewa.

Junus Satrion  Atmodjo Direktur Penionggalan Purbakala Kementrian kebudayaan dan Pariwisata pada 29 Maret 201 I dalam surat elektroniknya ke Johan Yan menuliskan area ini sebagai masterpiece Indonesia. Ini karena kelangkaannya yang tidak tergantikan."lni adalah satu-satunya area Nandi dengan ekor tegak dan kepala menengadah ke atas dengan relic suci di dalamnya seba¬gai tanda penyatuan dewa Syiwa dalam diri Nandi," papar Junus.

Deskripsi Maha Nandi yang demiki-an istimewa itulah yang kemudian menjadi energi penarik bagi kehadiran ben¬da-benda warisan masa lalu kepada Johan Yan. Kini, ia menyimpan belasan ben¬da-benda cagar budaya. "Semuanya sudah saya daftarkan BP3Trowulan," ujarnya.

Hampir semua benda-benda yang berada dalam perawatan Johan Yan adalah benda-benda yang di masa lalu me-rupakan perlengkapan pagelaran upacara. Benda-benda yang di masa lalu senantiasa dilingkupi puja-puji doa-doa.Tak heran jika kemudian energi yang terkan-dung di dalamnya pun demikian kuat.

"Banyak peristiwa yang secara logika sulit untuk dinalar, tapi begitulah adanya, karena benda-benda ini memang memi-liki energinya sendiri," ujar  Johan Yan.

Suatu kali.Vione (57), wanita asal Ja¬karta tergerak untuk mengunjungi Maha Nandi."Ada sebuah keinginan yang en-tah dari mana datangnya, yang seperti mengajak saya untuk mengunjungi Maha Nandi," tuturnya.

Sudah setahun belakangan.Vione menderita^penyakit yang tak kunjung menemukan obatnya. Setiap kali sakitnya kambuh, separuh wajahnya jadi memar memerah, dan ia merasakan panas di bagian tersebut.Tiga dokter yang dida-tanginya belum bisa memberikan diag-nosa pasti soal penyakit itu.

"Ini benar-benar pengalaman pribadi yang entah bagaimana menafsirkannya. Saya periksa ke dokter, dan itu memang sudah rutin saya lakukan.Tapi hari itu, siangnya saya usai mengunjungi Maha Nandi dan memanjatkan puja. Dokter langsung memastikan hasil diagnosa lalu memberi saya resep, dan penyakit saya berangsur sembuh," tutur Vione.

Keajaiban serupa beberapa kali terja-di berkait dengan Maha Nandi ini. Kala itu di Bali tengah digelar prosesi Tumpak Lamdep, dan Maha Nandi  menjadi salah satu benda peninggalan leluhur yang di-rituali secara khusus di Puri Dalem Ke-lodan Anyar Tengah, Dauh Pura Madya, lingkungan Banjar Ambengan, Peliatan, Ubud.

Upacara ini dipuja oleh Ida Pedanda Gede Jelantik Giri Puspa, disaksikan oleh penglingsir Puri Kelodan Anyar AnakAgung Gede Dalem Sudarsana.

Keajaiban pun terjadi saat penyucian ' dilakukan. Langit yang semula ditutupi mendung tiba-tiba terbelah oleh sinar matahari yang bergerak ke pusat sesaji dimanaArca Lembu Maha Nandi ditem-patkan. Matahari yang menebar merata itu tertutup sebagian oleh mendung se-hingga menampakkan sinar layaknya lampu spot yang tengah menyinari Maha Nandi secara khusus. Peristiwa aneh ini berlangsung di hadapan banyak orang yang hadir dalam proses tersebut.

Demi tetap menghormati benda-benda cagar budaya tersebut sekaligus untuk  menjaga energinya agar tetap me-mancarkan hal positif, Johan Yan mengaku melakukan perawatan rutin dengan seksama. "Termasuk dengan pemberian minyak khusus pada hari-hari tertentu, sesuai dengan petunjuk dari mereka yang lebih paham tentang energi spiritu-alitas," ujarnya.

Benda istimewa lain yang berada da¬lam perawatan Johan Yan adalah Rupang Tara Bodhisatva Mojopahit berusia 800 tahun.

Tara yang konon berasal dari air ma-ta salah satu murid Sang Budha ini pernah diberkati Chokyong Druk Dorje Rinpoche dari Bhutan dan Lama Rangbar Nyima Ozer dari New York. Saat pemberkatan itulah mata area peninggalan Kerajaan Majapahit yang tadinya me-nutup menjadi terbuka ke depan.

Bahkan, saat proses pemberkatan agung, mata rupang tara sempat melirik hingga membuat tegang kedua Rinpoche yang melakukan pemberkatan.

Banyak pihak menyebutkan jika pe-ristiwa itu merupakan sebuah keajaiban yang sangat langka, mengingat White Tara yang ada di Tibet pun tidak pernah memunculkan fenomena serupa.

Fenomena spiritual ternyata masih berlanjut,Yang Mulia H.E. Druk Chok yong Tsimar Rinpoche seperti menda-patkan getaran tertentu yang membuatnya segera berlutut memberikan peng-hormatan kepada rupang. la seperti melihat dan menyaksikan sesuatu, lalu me-mutar rupang dan memperhatikan bagian belakang rupang dengan seksama.

Ternyata Riponche melihat "mantra rahasia" yang ada di balik rupang, padahal mantra tersebut datang kasat mata. Karena kelebihan spiritual Riponchelah mantra tersebut bisa terlihat dan terbaca olehnya.

Pesan-pesan itu dicatat dan kemudi-an diurai dua bulan kemudian di Candi Borobudur. Saat pembacaan mantra ra-hasia itu fenomena alam aneh pun berlangsung. Sinar terik matahari yang menyinari pelataran Candi Borobudur-pun mendadak tertutup awan hitam hingga menjadi teduh. Sinar hanya menyorot layaknya lampu spot kearah Rupang Tara.

"Dalam pengetahuan spiritualitas, fenomena-fenomena ini memberikan petunjuk yang baik. Bahwa energi yang terkandung dalam area ini memberikan efek positif bagi lingkungan kita. Karena hal ini pula, saya akan terus merawat dengan memberikan penghormatan atas karya adiluhung leluhur ini sebagaimana mertinya," pungkas Johan Yan.(Liberty, Edisi 10-20 Oktober 2012)